Konstruksi Pemeriksaan Bersyarat dalam Mengadili Perkara Perceraian Secara Verstek di Pengadilan Agama

Authors

  • Mansari Mansari Universitas Iskandar Muda

DOI:

https://doi.org/10.58824/jdls.v3i1.525

Keywords:

Default Judgment (Verstek); Divorce; Proceedings Maqashid al-Shariah; Substantive Justice; Religious Courts.

Abstract

This study examines the practice of default judgments (verstek) in divorce proceedings which potentially deviates from the objectives of Maqashid al-Shariah, particularly the protection of lineage (hifz al-nasl), the protection of property (hifz al-mal), and the preservation of human dignity (hifz al-‘irdh). The central problem lies in the predominance of a procedural approach that treats the formal validity of service of summons as the primary basis for adjudication, without substantive examination of the child’s circumstances, the respondent’s financial capacity, and the underlying marital conflict. This research aims to analyze the normative construction of default judgment, to assess its application in judicial decisions, and to formulate a reconstructed model of default adjudication oriented toward substantive justice. The study employs a normative juridical method, applying both conceptual and statutory approaches. Data are analyzed descriptively and analytically through the examination of statutory provisions, court decisions, and the theoretical framework of Maqashid al-Shariah. The findings demonstrate that the current practice of default judgments in divorce cases has not ensured optimal protection of children’s rights, has inadequately considered the respondent’s economic condition, and has failed to place the substantive marital conflict at the core of judicial reasoning, resulting in the insufficient internalization of Maqashid al-Shariah within judicial practice. The application of default procedures in divorce proceedings risks distorting the protection of lineage, property, and human dignity due to the dominance of procedural justice over substantive justice. Judgments are frequently rendered without verification of the best interests of the child or the respondent’s capacity to provide maintenance, thereby weakening the function of law as an instrument of public welfare and human benefit. A reconstruction of default adjudication grounded in Maqashid al-Shariah is therefore required, positioning default judgment as a conditional mechanism that mandates substantive examination and the proactive exercise of judicial ex officio powers.

[Penelitian ini mengkaji praktik putusan verstek dalam perkara perceraian yang berpotensi menyimpang dari tujuan maqashid al-shariah, khususnya perlindungan keturunan (hifz al-nasl), perlindungan harta (hifz al-mal), dan penjagaan martabat manusia (hifz al-‘irdh). Permasalahan utama karena lebih didominasi pendekatan prosedural yang menempatkan keabsahan pemanggilan sebagai dasar putusan, tanpa pemeriksaan materiil terhadap kondisi anak, kemampuan ekonomi tergugat, serta substansi konflik rumah tangga. Tujuan penelitian ini menganalisis konstruksi norma verstek, praktik verstek dalam putusan dan  merumuskan model rekonstruksi hukum verstek yang berorientasi keadilan. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual yang menjadikan maqashid sebagai dasar analisis utama, pendekatan kasus dan peraturan perundang-undangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis melalui telaah norma hukum, putusan pengadilan, serta teori maqashid al-shariah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik putusan verstek dalam perkara perceraian belum memberikan perlindungan optimal terhadap hak anak, kondisi ekonomi tergugat, dan kompleksitas konflik rumah tangga. Aspek-aspek tersebut belum menjadi pertimbangan utama sehingga nilai-nilai maq??id al-syar?‘ah belum terinternalisasi secara memadai dalam praktik peradilan. Penerapan verstek berpotensi mendistorsi perlindungan terhadap keturunan (?if? al-nasl), harta (?if? al-m?l), dan martabat manusia karena praktik peradilan lebih menekankan keadilan prosedural. Penelitian merekomendasaikan rekonstruksi hukum verstek berbasis maq??id al-syar?ah dengan menempatkan verstek sebagai mekanisme bersyarat yang tetap mensyaratkan pemeriksaan materiil oleh hakim. Optimalisasi kewenangan ex officio hakim juga diperlukan agar kepentingan anak, kemampuan ekonomi pihak tergugat, dan nilai kemaslahatan dapat dipertimbangkan secara substantif dalam putusan perceraian. Kontribusi global kajian ini karena memberikan dasar konseptual dalam pengembangan diskursus Islamic family law dengan menawarkan model integrasi antara mekanisme prosedural peradilan modern dan prinsip maq??id al-syar?‘ah sebagai dasar evaluasi keadilan. Konsep pemeriksaan bersyarat dalam putusan verstek yang ditawarkan dapat menjadi kerangka analitis bagi negara-negara dengan sistem peradilan keluarga berbasis hukum Islam.]

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdullah, E. A. (2017). Pembaharuan Hukum Perdata Islam Praktik dan Gagasan. UII Press.

Ali, Z. (2021). Metode Penelitian Hukum. Sinar Grafika,.

Amal, M. I., & Zulaicha, S. (2023). Ex Officio Hakim Dalam Menentukan Nafkah ‘ Iddah Istri Nusyuz Pada Putusan Verstek. Sakina: Journal of Family Studies, 7(1), 51–66. https://doi.org/10.18860/jfs.v7i1.2900

Arto, M. (2017). Penemuan Hukum Islam Demi Mewujudkan Keadilan Membangun system Peradilan Berbasis Perlindungan Hukum dan Keadilan. Pustaka Pelajar.

Darmawan. (2020). Kaidah Fikih. Revka Prima Media.

Devy, S., & Mansari. (2016). Problematika Biaya Pemeliharaan Anak dalam Putusan Verstek di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 2(1), 63–76. https://doi.org/10.22373/equality.v2i1.1454

Hadana, E. S., Mansari, & Irwansyah. (2025). Implikasi Sosiologis Penjatuhan Talak Tiga di Luar Pengadilan di Kabupaten Pidie. Al-Ihkam Jurnal Hukum Keluarga, 17(2), 165–182.

Hakim, M. A., & Fauziah, N. (2024). Upaya Hukum Verzet Terhadap Putusan Verstek." 2, no. 1 Mei (2024). JURNAL STAIZA, 2(1), 88. https://doi.org/10.63829/js.v2i1mei.14

Hidayana, M. I., Jauhari, I., & Yahya, A. (2020). Juridical Analysis of Children Protection Post Divorce Parent. Jurnal IUS Kajian Hukum Dan Keadilan, 8(30), 302–311. https://doi.org/10.63829/js.v2i1mei.14.

Hidayat, E. M. (2024). Analisis Maqashid Syariah terhadap Putusan Verstek dalam Cerai Gugat daalm Putusan Nomor 440/PDT.G/2022/PA.KNG. El ‘Ailaah: Jurnal Kajian Hukum Keluarga, 3(1), 1–15. https://doi.org/10.59270/aailah.v3i1.222

Idrus, A. M. (2021). Kebijakan Pemimpin Negara Dalam Perspektif Kaidah Fikih?: Tasarruf Al-Imam Manutun Bil Maslahah. Al Daulah?: Jurnal Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan, 1(1), 123. https://doi.org/10.24252/ad.v1i1.26278

Irwansyah. (2021). Penelitian Hukum Pilihan Metode & Praktik Penulisan Arikel. Mirra Buana Media.

Jamil, A., & Nur, M. (2022). Perlindungan Hukum dan Keadilan Para Pihak Melalui Ex Officio Hakim Dalam Putusan Verstek Perkara Perceraian. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 29(2), 439–460. https://doi.org/10.20885/iustum.vol29.iss2.art10

Kusmayanti, H., Djanuardi, & Muhammad, R. M. (2019). Divorce Caused by Hypersexual Psychological Disorder in Husband. NURANI: Jurnal Kajian Syariah Dan Masyarakat, 19(2), 161–171. https://doi.org/10.19109/nurani.v19i2.4025.

Mansari, Hadana, E. S., & Hidayat, R. (2024). Hukum dan Keadilan dalam Dimensi Ilmu Hukum dan Hukum Islam. Journal of Dual Legal Systems, 1(1), 17–27. https://doi.org/10.58824/jdls.v1i1.127.

Mansari, Irwansyah, Rais, M., Sari, E., & Rahman, A. (2025). Division of Joint Assets Based on the Implementation of Responsibilities Analysis of Sharia Court Decisions Based on Jurisprudence and Their Legal Implications in Banda Aceh. El-Usrah Jurnal Hukum Keluarga, 8(2). https://doi.org/10.22373/ujhk.v8i2.25184.

Mansari, & Moriyanti. (2019). Sensitivitas Hakim terhadap Perlindungan Nafkah Isteri Pasca Perceraian. Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 5(1), 43–58. https://doi.org/10.22373/equality.v5i1.5377.

Mansari, Sari, E., & Abdul Muthalib, S. (2022). Analisis Yuridis Terhadap Penolakan Nafkah Madhiah Isteri Dan Anak. Al-Qadha?: Jurnal Hukum Islam Dan Perundang-Undangan, 9(2), 306–322. https://doi.org/10.32505/qadha.v9i2.3903

Marilang, M. (2017). Menimbang Paradigma Keadilan Hukum Progresif. Jurnal Konstitusi, 14(2), 315. https://doi.org/10.31078/jk1424

Mukti Fajar, Y. (2015). Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris. Pustaka Pelajar.

Muthalib, S. A., Mansari, Mahmuddin, Zainuddin, M., & Melayu, H. A. (2021). Analisis Kepentingan Terbaik Bagi Anak dalam Hukum Jinayat Aceh. Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam Dan Pranata Sosial Islam, 9(02), 415–430. https://doi.org/10.30868/am.v9i02.1621

Muthalib, S. A., Mansari, & Ridha, M. (2022). Kewenangan Hakim Melaksanakan Mediasi pada Perkara Isbat Nikah dalam Rangka Penyelesaian Perceraian. Al-Ahkam Jurnal Syariah Dan Peradilan Islam, 2(2), 1–9.

Nur, M. (2021). Rekonseptualisasi Penyelesaian Verstek Perkara Peceraian Berbasis Keadilan Substansial. Universitas Islam Indonesia.

Nurdin, A. (2013). Revitalisasi Kearifan Lokal di Aceh: Peran Budaya dalam Menyelesaikan Konflik Masyarakat. Analisis, XIII(1), 135–154. https://doi.org/10.24042/ajsk.v13i1.645.

Rachmawati, I. Y., Purnomo, A., Nisa, K., & Agmar, A. (2022). Problematika Hak Asuh Anak Dalam Putusan Pengadilan Agama. Antologi Hukum, 2(1). https://doi.org/10.21154/antologihukum.v2i1.1188.

Radiant, A. L., Noveline, D. K., Majid, F. Al, & Wirya, M. A. A. (2026). Eksekusi Kewajiban Nafkah dalam Putusan Verstek Perkara Perceraian?: Ketidakhadiran Mekanisme Penelurusan Tergugat. Journal Sovereignty Law and Diplomatic Politics, 2(1), 42–49. https://doi.org/10.59066/jlsdp.v2i1.1993.

Rasyid, L. M., & Herinawati. (2015). Modul Pengantar Hukum Acara Perdata. Unimal Press.

Raudhatunuur. (2016). Eksekusi Putusan Kewajiban Ayah atas Nafkah Anak Pasca Perceraian (Studi Kasus pada Mahkamah Syar’iyah Idi). Gender Equality: International Journal of Child and Gender Studies, 2(2), 43–50.

Ridha, M. (2017). Peumat Jaroe: Proses Mediasi Menuju Harmoni dalam Masyarakat Aceh. Lhee Sagoe Press.

Rusydi, B. A. (2020). Problem Kehadiran dan Upaya Hukum Tergugat dalam Putusan Verstek Perkara Perceraian pada Pengadilan Agama Bandung. Muslim Heritage, 5(1), 371–393. https://doi.org/10.21154/muslimheritage.v5i2.2362.

Saputra, D., Jamaluddin, & Yulia. (2021). Perlindungan Hak Perempuan dan Anak dalam Putusan Verstek di Mahkamah Syar’iyah Idi. Suloh: Jurnal Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, 9(2), 1–24. https://doi.org/10.29103/sjp.v9i2.4799.

Setiawan, A. (2017). Penalaran Hukum Yang Mampu Mewujudkan Tujuan Hukum Secara Proporsional. Jurnal Hukum Mimbar Justitia, 3(2), 204. https://doi.org/10.35194/jhmj.v3i2.257

Susantin, J. (2020). Analisis Putusan Verstek dalam Perkara Cerai Gugat Perspektif Maslahah Mursalah. Jurnal Yustitia, 20(2), 202. https://doi.org/10.0324/yustitia.v20i2.695

Wahyuni, Y. S., & Ramadhana. (2021). Pencabutan Petitum Pada Perkara Cerai Talak (Analisis Putusan Hakim Nomor 217/Pdt.G/2020/Ms-Bna). El-Usrah Jurnal Hukum Keluarga, 4(2), 295–327. https://doi.org/10.22373/ujhk.v4i2.10155

Yahya, F., & Annisa, M. (2020). Putusan Verstek dalam Cerai Gugat Analisis Putusan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh. El-Usrah Jurnal Hukum Keluarga, 3(1), 1–16. https://doi.org/10.22373/ujhk.v3i1.7706

Yulia. (2018). Hukum Acara Perdata. Unimal Press.

Yuni, L. A., & Kusuma, J. (2023). The Fulfillment of Women ’ s Rights in Verstek Decisions at Samarinda and Sangatta Religious Court. Al-’Adalah: Jurnal Syariah Dan Hukum Islam, 20(2), 257–282. https://doi.org/10.24042/adalah.v20i2.16119

Zainuddin, M., Mansari, & Filzah, N. (2022). Divorce Problems and Community Social Capital in Realizing Family Resilience in Aceh. Samarah, 6(2), 914–933. https://doi.org/10.22373/sjhk.v6i2.15080

Zainuddin, M., Umar, M. N., Sumardi, D., Mansari, & Khalil, Z. F. (2024). Protection of Women and Children in the Perspective of Legal Pluralism: A Study in Aceh and West Nusa Tenggara. Samarah, 8(3), 1948–1973. https://doi.org/10.22373/sjhk.v8i3.22203

Downloads

Published

2026-04-04

How to Cite

Mansari, M. (2026). Konstruksi Pemeriksaan Bersyarat dalam Mengadili Perkara Perceraian Secara Verstek di Pengadilan Agama. Journal of Dual Legal Systems, 3(1), 62–83. https://doi.org/10.58824/jdls.v3i1.525