Mahar dalam Islam: Hukum, Tuntutan, dan Realitas Sosial

Authors

DOI:

https://doi.org/10.58824/jdls.v1i2.222

Keywords:

Mahar, Tuntutan Syariat, Realitas Sosial

Abstract

This study aims to analyze the position of dowry in Islamic law, the demands of sharia regarding the ideal dowry, and its relevance to the social reality of contemporary Muslim society. Dowry is seen as a symbol of appreciation for the wife and a sign of seriousness in marriage, as well as a wife's right that must be fulfilled by the husband. Islamic sharia emphasizes that the amount of dowry should be adjusted to the husband's ability without burdening him, prioritizing the principles of simplicity and balance that are relevant to social and economic conditions. The research used is a qualitative approach with library research. The findings of this study show that the value and form of dowry in contemporary Muslim society vary due to the influence of local culture, economic conditions, and community expectations. Sometimes, the high demand for dowry is a barrier for couples who want to get married. Therefore, a deeper understanding of the essence of dowry is needed, in order to be in accordance with the demands of sharia while at the same time being able to adjust to the social reality that is developing today.

[Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan mahar dalam hukum Islam, tuntutan syariat tentang pemberian mahar yang ideal, serta relevansinya dengan realitas sosial masyarakat Muslim kontemporer. Mahar dipandang sebagai simbol penghargaan kepada istri dan tanda keseriusan dalam pernikahan, serta merupakan hak istri yang harus dipenuhi oleh suami. Syariat Islam menekankan agar besaran mahar disesuaikan dengan kemampuan suami tanpa membebani, mengedepankan prinsip kesederhanaan dan keseimbangan yang relevan dengan kondisi sosial dan ekonomi. Penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode library research. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa nilai dan bentuk mahar dalam masyarakat Muslim kontemporer mengalami variasi akibat pengaruh budaya lokal, kondisi ekonomi, serta ekspektasi masyarakat. Kadangkala, tingginya tuntutan mahar menjadi penghalang bagi pasangan yang ingin menikah. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang esensi mahar, agar sesuai dengan tuntutan syariat sekaligus mampu menyesuaikan dengan realitas sosial yang berkembang saat ini].

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Juzairi, A. (n.d.). Fikih Empat Madzhab (Ke-6). Pustaka Al- Kautsar.

Al-Ghazali, A.H. (2010). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Al-Jaziri, A.(2003). Kitab Al-Fiqh 'Ala Al-Madhahib Al-Arba'ah. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah.

Al-Jauziyah, I.Q (1994). Zadul Ma'ad. Kuwait: Maktabah Al-Manar Al-Islamiyyah.

Al-Zuhaili, W. (2011). Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Damascus: Dar Al-Fikr.

An-Nawawi, Y. (1995). Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzdzab. Beirut: Dar Al-Fikr.

Anas, B.M. (1985). Al-Muwatta. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-Arabi.

As-Syafi'i, M.B.I. (2001). Al-Umm. Beirut: Dar Al-Ma'rifah.

Djawas, M., Agama, I., Negeri, I., & Selatan, S. (2023). The Integration between Syara’ and Ade’ in Wedding Tradition of Bugis Bone, South Sulawesi: Islamic Law Perspective. Al-Ihkam: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial, 18(2), 342–364. https://doi.org/10.15408/sdi.v20i2.387.

El-Hazmi, A. (2018). "Contemporary Issues in Islamic Marriage: A Study of Gulf Countries." Journal of Islamic Studies, 30(2), 45-67.

Kamaruddin, K. (2022). The early marriage of the Tolaki Konawe community in the perspective of critical Islamic law. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 22(2), 255–269. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v22i2.255-269

Khan, M. (2020). "Dowry and Mahr in South Asian Muslim Communities: A Comparative Analysis." Asian Journal of Social Sciences, 48(3), 78-95.

Nasution, S. A. (2019). Hukum Perkawinan Muslim: Antara Fikih Munakahat dan Teori Neo-Receptie In Complexu. Jakarta: Prenadamedia Group. http://etheses.uin-malang.ac.id/10227/

Rahman, A (2019). "Praktik Mahar dalam Masyarakat Indonesia: Studi Etnografi di Tiga Provinsi." Jurnal Studi Islam, 15(2), 123-145.

Sabiq, S. (2004). Fiqh As-Sunnah. Cairo: Dar Al-Hadith.

Syafii, A. (2021). "Media Sosial dan Transformasi Praktik Mahar di Era Digital." Jurnal Sosiologi Islam, 6(1), 15-32.

Santoso, D., Jafar, W. A., Nasrudin, M., Asmara, M., & Fauzan, F. (2022). Harmony of religion and culture?: fiqh mun?kahat perspective on the Gayo marriage custom. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 22(2), 199–218. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v22i2.199-218

Suhardi, S., Muzammil, A. R., & Syahrani, A. (2022). Peristilahan Adat Pernikahan Pada Masyarakat Madura di Wajok Hilir, Kabupaten Mempawah. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa, 11(1), 1–10.

Suroh, S. (2021). Pemberian Mahar dan Uang Hantaran pada Pernikahan Adat Suku Rejang Bengkulu Utara (Prespektif Sosiologi Agama). Jurnal Manthiq, 4(1), 1–6. https://doi.org/10.29300/mtq.v6i1.5178

Yulanda, W., Tjoetra, A., & Lestari, Y. S. (2021). Perbedaan Adat Hantaran Gampong Madat & Rot Teungoh Kabupaten Aceh Selatan. Society, 1(1), 13–20.

Downloads

Published

2024-09-30

How to Cite

Khairuddin, K. (2024). Mahar dalam Islam: Hukum, Tuntutan, dan Realitas Sosial. Journal of Dual Legal Systems, 1(2), 87–102. https://doi.org/10.58824/jdls.v1i2.222