Atribusi Kesalahan Korporasi dalam Tindak Pidana Pertambangan: Relevansi Doktrin Menembus Tirai Korporasi Pasca-KUHP Nasional
DOI:
https://doi.org/10.58824/arjis.v5i3.641Keywords:
corporate criminal liability, corporate fault, criminal policy, mining, piercing the corporate veilAbstract
Corporate criminal liability under Indonesia’s national Criminal Code raises a problem that goes beyond recognizing corporations as subjects of criminal law: the central issue is how conduct and fault should be attributed to a corporation and how the liability of corporate officers should be delimited when the corporate form is used as a vehicle for unlawful business activity. This article examines the construction of corporate fault attribution in mining crimes and reassesses the relevance of piercing the corporate veil in national criminal-law policy, using Decision Number 4/Pid.Sus-LH/2026/PN Amp as an analytical case. The study employs normative legal research through statutory, conceptual, case, and criminal-policy approaches. It finds that the national Criminal Code establishes a layered attribution model: conduct must first qualify as a corporate crime, the basis of corporate responsibility must then be tested, and only afterward should the liable subject be identified. Piercing the corporate veil therefore should not operate as an independent theory for proving corporate fault. Its proper role is corrective and complementary, particularly where separate legal personality is abused. The article proposes a four-layer analysis separating attribution of conduct, corporate fault, individual liability, and veil piercing to prevent criminal responsibility from being imposed merely on the basis of corporate office or status.
[Transformasi korporasi menjadi subjek tindak pidana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana nasional menimbulkan persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar pengakuan kapasitas korporasi untuk dipidana. Persoalan sentral terletak pada cara mengatribusikan perbuatan dan kesalahan kepada korporasi, sekaligus menentukan batas pertanggungjawaban pengurus ketika bentuk badan hukum digunakan sebagai medium kegiatan usaha yang melanggar hukum. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi atribusi kesalahan korporasi dalam tindak pidana pertambangan pasca-berlakunya KUHP Nasional serta menganalisis relevansi doktrin piercing the corporate veil dalam menentukan pertanggungjawaban pidana pengurus, pemegang kendali, dan/atau pemilik manfaat korporasi, dengan Putusan Nomor 4/Pid.Sus-LH/2026/PN Amp sebagai kasus analitis. Penelitian menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus, dan kebijakan hukum pidana. Hasil kajian menunjukkan bahwa KUHP Nasional membangun model atribusi yang berlapis: perbuatan harus terlebih dahulu dikualifikasikan sebagai tindak pidana oleh korporasi, kemudian diuji dasar pertanggungjawabannya, baru ditentukan subjek yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Dalam struktur demikian, piercing the corporate veil tidak tepat diposisikan sebagai teori mandiri untuk membuktikan kesalahan korporasi. Politik hukum yang ideal karena itu memerlukan pemisahan analitis antara atribusi perbuatan, atribusi kesalahan, pertanggungjawaban individual, dan penembusan tabir korporasi agar pemidanaan tidak bergeser menjadi pertanggungjawaban berdasarkan jabatan semata. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka analitis pertanggungjawaban pidana korporasi melalui pemisahan empat lapis analisis tersebut, yang dapat digunakan sebagai parameter dalam menentukan secara lebih terukur pertanggungjawaban korporasi dan individu dalam tindak pidana pertambangan]
Downloads
References
Abdullah, A., La Ode, M. T., Dahlan, A., Suhendar, & Hamdan, M. S. Q. (2026). Mining Law Enforcement: Reconstructing Corporate Criminal Liability Using the Ultimum Remedium Approach. PETITA: Jurnal Kajian Ilmu Hukum Dan Syariah, 11(1), 349–371. https://doi.org/10.22373/petita.v11i1.1094
Afridi, A. (2025). Corporate Liability and the Concept of Limited Liability. International Journal of Law and Policy, 3(10), 37–57. https://doi.org/10.59022/ijlp.386
Agustin, A. M. N., & Prakoso, C. A. (2026). Prinsip Piercing The Corporate Veil Dalam Pertanggung Jawaban Pidana Korporasi. Jurnal Wetgeving, 1(1), 1–20. https://doi.org/10.56013/wetgeving.v1i1.5172
Alhakim, A., & Soponyono, E. (2019). Kebijakan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi terhadap Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 1(3), 322–336. https://doi.org/10.14710/jphi.v1i3.322-336
Aripkah, N. (2020). Persoalan Kriteria Batasan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi: Tinjauan Terhadap Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 27(2), 367–387. https://doi.org/10.20885/iustum.vol27.iss2.art8
Febriyani, E., Ginting, J., & Rekso Wibowo, B. (2025). CORPORATE CRIMINAL LIABILITY IN JORDAN, AUSTRALIA, AND INDONESIA: A COMPARATIVE ANALYSIS OF DOCTRINES AND RECENT DEVELOPMENTS. Journal of Law and Policy Transformation, 10(2), 162–177. https://doi.org/10.37253/jlpt.v10i2.11527
Franken, G., & Schütte, P. (2022). Current trends in addressing environmental and social risks in mining and mineral supply chains by regulatory and voluntary approaches. Mineral Economics, 35(3–4), 653–671. https://doi.org/10.1007/s13563-022-00309-3
Hendrawan, F. R. (2025). Corporate Criminal Liability Policy in Mining Crimes in Indonesia. SHS Web of Conferences, 221, 03003. https://doi.org/10.1051/shsconf/202522103003
Horder, J. (2025). Corporate criminal liability under the Economic Crime and Corporate Transparency Act 2023. Legal Studies, 45(1), 133–148. https://doi.org/10.1017/lst.2024.46
Ishwara, A. S. S. (2024). The Construction of Corporate Fault related to Corporate Criminal Liability in the New Criminal Code: Implications and Formulation. LEGAL BRIEF, 13(5), 1167–1177. https://doi.org/10.35335/legal.v13i5.1151
Judijanto, L., Triyantoro, A., & Susilo, A. (2025). Civil Law Analysis of the Misuse of Legal Entities for Personal Interests (Piercing the Corporate Veil) in Indonesia. The Easta Journal Law and Human Rights, 3(02), 63–71. https://doi.org/10.58812/eslhr.v3i02.477
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (2022, July 12). Pertambangan Tanpa Izin Perlu Menjadi Perhatian Bersama. Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia.
Kurniawan, K. D., & Hapsari, D. R. I. (2022). Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Menurut Vicarious Liability Theory. Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, 29(2), 324–346. https://doi.org/10.20885/iustum.vol29.iss2.art5
Mariza, D. P. (2024). The Legal Framework of Corporate Criminal Accountability in Indonesian Mining Crimes. Jurnal Hukum In Concreto, 3(2), 237–253. https://doi.org/10.35960/inconcreto.v3i2.1824
Micheler, E. (2024). Separate legal personality–an explanation and a defence. Journal of Corporate Law Studies, 24(1), 301–329. https://doi.org/10.1080/14735970.2024.2365170
Muhaimin. (2020). METODE PENELITIAN HUKUM. Mataram University Press.
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi, Pub. L. 13 Tahun 2016 (2016). https://peraturan.bpk.go.id/Details/209693/perma-no-13-tahun-2016
Pratistha, A. (2025). Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Pertambangan Galian C Tanpa Izin. JOPPAS: Journal of Public Policy and Administration Silampari, 6(2), 95–105. https://doi.org/10.31539/joppas.v6i2.14241
Putri, S. H. M., Widyastari, D. N. A. C., Pangestu, Y. E., Nasoetion, D. N., Isnani, I. K., Saputra, J. N., & Taufik, M. (2025). Piercing the Corporate Veil Sebagai Instrumen Pertanggungjawaban Pidana Korporasi dalam Kejahatan Deforestasi: Analisis Normatif Kritis Terhadap Penegakan Hukum Lingkungan di Indonesia. Journal Evidence Of Law, 4(3), 2221–2231. https://doi.org/10.59066/jel.v4i3.2113
Putusan Pengadilan Negeri Amlapura Nomor 4/Pid.Sus-LH/2026/PN Amp (April 7, 2026). https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/zaf1a6785bdbacaa9216303934353239.html
Romdoni, M. (2022). A literature review of coercive isomorphism on corporate legal responsibility in Indonesia. PRANATA HUKUM, 17(2), 121–132. https://doi.org/10.36448/pranatahukum.v17i2.286
Rosiki, A. F., Hestina, D., Nuramalia, D. A. P., Bumiayu, K. K., Fawaid, & Taufik, M. (2026). Reformulasi paradigma dan implementasi pertanggungjawaban pidana korporasi: Sebuah studi kritis terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 dan realitas penegakan hukum di Indonesia. Indonesia of Journal Business Law, 5(1), 176–184. https://doi.org/10.47709/ijbl.v5i1.7847
Stef?noaia, M. (2025). The Evolution of Corporate Criminal Liability in Romanian and European Criminal Law. Proceedings of The International Conference on Humanities, Psychology and Social Sciences, 2(2), 08–21. https://doi.org/10.33422/hpsconf.v2i2.1363
Suhariyanto, B. (2018). Corporate Criminal Liability Under the Reactive Corporate Fault to Achieve Good Corporate Governance in Indonesia. SHS Web of Conferences, 54, 07009. https://doi.org/10.1051/shsconf/20185407009
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Pub. L. 1 Tahun 2023 (2023). https://peraturan.bpk.go.id/Details/234935/uu-no-1-tahun-2023
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, Pub. L. 1 Tahun 2026 (2026). https://peraturan.bpk.go.id/Details/337869/uu-no-1-tahun-2026
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Pub. L. 3 Tahun 2020 (2020). https://peraturan.bpk.go.id/Details/138909/uu-no-3-tahun-2020
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Pub. L. 40 Tahun 2007 (2007). https://peraturan.bpk.go.id/Details/39965/uu-no-40-tahun-2007
Velo Dalbrenta, D. (2026). Revealing criminal motives: Legal cognition between science, rhetoric and criminology. Oñati Socio-Legal Series, 16(2), 663–679. https://doi.org/10.35295/osls.iisl.2312
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Fitria Hady, Ainul Azizah, Nurul Ghufron

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













