Kaffarah For the Violation of Personal Oaths: A Tafsir Perspektive on QS Al-M?idah [5]: 89

Authors

  • Musfirah Musfirah Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
  • Achmad Abubakar Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
  • Rahmi Damis Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

DOI:

https://doi.org/10.58824/arjis.v5i2.602

Keywords:

Kaffarah, Personal Oaths, QS al-M?idah [5]: 89

Abstract

This study examines the kaffarah for the violation of personal oaths from the perspective of the interpretation of QS al-M?idah [5]: 89. The study is motivated by the limited public understanding of the consequences of breaking personal oaths and the obligation of kaffarah as prescribed in the Qur’an. Furthermore, previous studies on oaths have prescribed in the Qur’an. Furthermore, previous studies on oaths have predominantly focused on legal, cultural and social aspects, while research specifically addressing personal oaths from a Qur’anic exegesis (tafsir) perspekticve remains limited. This study aims to analyze the nature of kaffarah, its various froms, and the implications of violating personal oaths according to QS al-M?idah [5]: 89. It employs a qualitative method using a library research approach and tafsir tahlili (analytical exegesis). Primary data consist of the Qur’an and classical as well as cotemporary tafsir works, while secondary data are obtained from relevant books, scholarly articles, and academic journals. The findings reveal that kaffarah serves as a form of legal accountability for intentionally breaking an oath, while also functioning as a means of fostering moral integrity , spiritual awareness and social responsibility. The prescribed forms of kaffarah include feeding ten poor people, providing them with clothing, freeing a slave and fasting for three days for those who are unable to perform the first three forms. The study also demonstrates that the regulations concerning kaffarah encompass not only legal consequences but also promote individual responsibility and contribute to social welfare. This research contributes to enriching Qur’anic exegesis studies on kaffarah through an analysis of QS al-M?idah [5]: 89, with a particular focus on the violation of personal oaths.

[Penelitian ini mengkaji kaffarah atas pelanggaran sumpah pribadi dalam perspektif tafsir QS al-M?idah [5]: 89. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya pemahaman mengenai konsekuensi pelanggaran sumpah pribadi serta kewajiban kaffarah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an. Di sisi lain, penelitian tentang sumpah selama ini lebih banyak menitikberatkan pada aspek hukum, budaya dan praktik sosial, sedangkan kajian yang secara khusus membahas sumpah pribadi dalam perspektif tafsir masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hakikat kaffarah, bentuk-bentuk kaffarah serta implikasi pelanggaran sumpah menurut QS al-M?idah [5]: 89. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research dan analisis tafsir tahlili. Sumber data primer berupa al-Qur’an dan kitab-kitab tafsir, sedangkan sumber data sekunder diperoleh dari buku, artikel dan jurnal ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaffarah merupakan bentuk pertanggungjawaban syariat atas pelanggaran sumpah yang dilakukan dengan sengaja, sekaligus menjadi sarana pembinaan moral, spiritual dan kepedulian sosial. Bentuk kaffarah meliputi memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian, memerdekakan budak dan berpuasa selama tiga hari bagi orang yang tidak mampu melaksanakan tiga bentuk sebelumnya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketentuan kaffarah tidak hanya mengandung konsekuensi hukum, tetapi juga membentuk tanggungjawab individu dan mewujudkan kemaslahatan sosial. Penelitian ini berkontribusi memperkaya kajian tafsir al-Qur’an mengenai kaffarah melalui analisis QS al-M?idah [5]: 89 yang berfokus pada pelanggaran sumpah pribadi.]

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-Qur’an Al-Karim

Ad-dimasyqi, A.-I. A. F. I. I. K. (n.d.). Tafsir Ibnu Ka?ir, Juz 7.

Al-Ashfahani, A.-R. (1438). Al-Mufradat fi Gharibi Qur’an, Cet.I, Jilid 3. Dar Ibnul Jauzi.

Al-Biqa’i, I. M. B. A. al-H. I. bin U. (n.d.). Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar. Dar al-Kitab al-Islami.

al-Qurtubi. (2013). Tafsir al-Qur?ubi, Jilid 6. Pustaka Azzam.

Hamka. (2003). Tafsir Al-Azhar, Jilid 3. Pustaka Nasional PTE LTD.

Isham Muhammad As-Syarif. (2005). Beginilah Nabi Mencintai Istri. Gema Insani Press.

Karim, S. D., A., A., & G., A. (2925). Fungsi Aqsam Dalam Al-Qur’an: Kajian Struktur dan Makna. KALAMIZU: Jurnal Sains, Sosial Dan Studi Agama, 1(2).

Nengsih, S. W. (2020). Formula Dan Struktur Mantra Banjar: Sumpah Serapah Mamburu Hantu Kuyang. UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa Dan Sastra, 16(1), 107–117. https://doi.org/10.26499/und.v16i1.2215

Perdana, I. (2018). Pada Ritual Upacara Kematian Memberi Makan Roh Di Desa Tumbang Olong. Unika Atma Jaya, 16, 221–225.

Putra , R. A., & Zuraidah. (2024). Kebolehan Mengucapkan Sumpah Tanpa Menggunakan Al-Qur’an Di Pengadilan Agama. Journal Of Sharia and Legal Science, 2, no.

Riswan Munthe. (2016). Kekuatan Sumpah Li’an Menurut Fiqh Islam. Jurnal Ilmiah Penegakan Hukum, 3(2), 40–49.

Rahman. Rizal (2024). Studi Living Al-Qur’an Dalam Praktik Sumpah Pejabat Menggunakan Mushaf Al-Qur’an. JMIA, 1, 881–890.

Shihab. M. Q. (2002). Tafsir Al-Misbah, Jilid 4. Lentera Hati.

Zaid, N. H. A. (2005). Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. LKis.

Downloads

Published

2026-07-16

How to Cite

Musfirah, M., Abubakar, A. ., & Damis, R. . (2026). Kaffarah For the Violation of Personal Oaths: A Tafsir Perspektive on QS Al-M?idah [5]: 89. Abdurrauf Journal of Islamic Studies, 5(2), 90–104. https://doi.org/10.58824/arjis.v5i2.602